Pengumuman (ga penting)

>> Minggu, 17 April 2011

MAAF, SAMPAI SAAT INI BELUM BISA POSTING TULISAN BARU DIKARENAKAN SEDANG FOKUS BELAJAR UNTUK PERSIAPAN UJIAN NASIONAL YANG AKAN DISELENGGARAKAN PADA TANGGAL 18 APRIL 2011 DAN JUGA SNMPTN.
INSYA ALLAH SETELAH SELESAI AKAN AKTIF KEMBALI. MOHON DOA RESTU DAN DUKUNGAN DARI TEMAN-TEMAN SEMUA.
TERIMAKASIH...

Baca selengkapnya...

Mendalami Makna Ukhuwah

>> Minggu, 24 Oktober 2010

Dalam kehidupan menjalani hari-hari bersama tuntunan dan ajaran islam, sisi kehidupan manusia memang tidak pernah lepas dari tuntunan ajaran islam yang memperhatikan seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak ada yang lepas dari sentuhan islam. Sejarah Rosulullah dan sahabat telah mencerminkan kehidupan itu. Itulah sebuah persaudaran indah yang tiada duanya di muka bumi ini. Kisah nyata yang begitu membuat jiwa bergetar akan makna ukhuwah islamiyah yang sesungguhnya. Itulah kisah Muhajirin dan Anshor.

14 abad yang lalu, di saat dakwah islam muncul dan mulai bersemi di sumbernya kota Mekah Al-Mukarromah, hari demi hari dakwah Rosulullah menuai satu demi satu pengikut seiring juga dengan menuai banyak cercaan, penyiksaan dan ancaman pembunuhan. Sehingga mengharuskan mereka untuk meninggalkan kota Mekah tanpa bekal. Itulah syarat yang diajukan oleh orang-orang Qurays ketika itu: ”Silahkan tinggalkan Mekah, namun jangan pernah membawa secuil harta bendamu”. Iman adalah di atas segalanya, tak sebanding dengan sebanyak apapun kekayaan yang mereka tinggalkan. Itulah pilihan tepat dari generasi awal dakwah islam. Resiko kesulitan di dalam perjalanan hijrah adalah hal yang mesti mereka hadapi. Sehingga sampailah mereka menuju negeri Hijrah ’Yastrib’ sebutan nama kota Madinah Al-Munawwaroh ketika itu.

Wajah-wajah penduduk Anshor yang penuh kerinduan dan senyuman-senyuman mengembang tatkala terlihat debu-debu berterbangan dari kejauhan pertanda saudara-saudara mereka seiman akan segera tiba. Mereka akan bertemu dengan saudara-saudara mereka walau mereka sebelumnya tak pernah saling kenal, kota mekah yang berkarakter kota bisnis dan perdagangan berbeda jauh dengan kota madinah yang terkenal dengan kesuburan pertanian dan perkebunan kurmanya, membentuk karakter masyaratakat pun berbeda pula, kepribadian yang berbeda, bahasa pun memiliki lahjah-lahjah atau pengucapan yang berbeda walau sama-sama menggunakan bahasa arab. Namun mereka melupakan semua itu. ”Kalian adalah saudara-saudara kami, kami adalah saudara-saudara kalian”, itulah semboyan-semboyan mereka.

Rasa kebersamaan atas dasar iman dan kesatuan perjuang menjadikan orang-orang yang bergabung di dalamnya betul-betul saling mencintai karena Allah, rela berkorban, tanpa pamrih, saling menopang dan melakukan apa saja untuk menggapai redho Allah, tidak untuk yang lain. Karena ada sesuatu yang ingin mereka persembahkan kepada Allah secara bersama-sama. Berupa amal sholih, yang diinginkan hanyalah ganjaran di akherat kelak berupa surga-Nya semata.

”Dan sesungguhnya ganjaran di akherat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (Al-a'la: 17)

"Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan ganjaran bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Hud: 115)

Bila iman telah tertanam, orang lain yang jauh pun bisa menjadi saudara dekat. Ukhuwah, persaudaraan yang dibangun atas dasar iman, memang tak kenal batas. Apalagi ras, suku, bahkan negara. Betapa banyak orang yang tak punya hubungan darah dan kerabat. Tetapi menjadi saudara lantaran iman yang menyatukan hati mereka. Iman memang bisa mengubah segalanya, bermula dari hati, segala akan bisa berubah. Begitulah perubahan pribadi yang dialamai sahabat rosulullah saw.

Kisah yang tak pernah terlupakan.., tatkalah satu demi satu sahabat muhajirin dipersaudarakan dengan kaum anshor: Ja’far bin Abi Tholib dipersaudarakan dengan Zaid bin Haritsah, Abu Bakar ash-Shiddiq dengan Khorijah bin Zuhair, Umar bin Khottob dengan ’Utbah bin Malik dan Abdurrahman bin Auf dengan Saad bin Robi’. Satu demi satu pula kaum muhajirin menempati rumah sahabat anshor, perasaan bahagia dan bangga tanpa rasa beban sedikitpun menghiasi wajah-wajah masyarakat anshor. Menyediakan tempat tinggal untuk saudara-saudara mereka, menyediakan makan dan minum buat saudara mereka walaupun seadanya, walau sebenarnya mereka sendiri membutuhkan. Bukan karena unsur apa-apa. Namun hanya karena iman dan rasa persaudaraan yang mendalam mengharapkan keridoaan Allah semata. Dengan sikap mereka ini maka Allah memuji mereka di dalam Al-Quran surat Al-Hasyr ayat 9.

”Dan orang orang yang menempati kota madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan oleh mereka (orang muhajirin). Dan mereka mengutamakan orang-orang muhajirin di atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Sebuah pujian yang layak buat mereka. Alangkah indahnya sebuah pujian yang datang langsung dari Sang Pencipta alam semesta. Ini dikarenakan sebuah sifat yang mulia yaitu ”al-itsar” atau mengutamakan kepentingan orang lain diatas keperluan diri sendiri.

Abu Hurairoh meriwayatkannya dengan menyebutkan :

”Sesungguhnya di dalam surga ada tiang dari permata yakut, di atasnya ada kamar-kamar indah, terdapat pintu yang terbuka dan bisersinar seperti bersinarnya bintang-bintang. Kami bertnya: "Ya Rosulullah, siapa yang tinggal di dalamnya? Rosulullah menjawab: "Mereka orang-orwang yang saling mencintai karena Allah, saling duduk karena Allah, saling bertemu karena Allah. (HR. Al-Bazzar)

Di dalam hadist Qudsi Allah swt berfirman :

“Pasti mendapatkan cinta-Ku orang-orang yang saling berkorban karena-Ku, orang-orang yang saling mencintai karena Aku, orang-orang yang saling berkorban karena Aku, dan orang-orang yang saling membela karena-Ku.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Hakim, ia men-shohihkannya)

Imam Muslim meriwayatkan dalam shohihnya sebuah Hadist Qudsi :

Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman pada hari kiamat : “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena kemuliaan-Ku. Hari ini Aku menaungi mereka di dalam naungan-Ku pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.”

Itulah ganjaran yang dijanjikan buat mereka yang saling mencintai karena Allah, saling membantu hanya karena Allah, saling bersaudara karena Allah.

Suatu hari seorang sahabat rosulullah Abu Tholhah dan istrinya belum sedikitpun mencicipi makanan. Rasa lapar mendera perut mereka. Siang itu Abu Tholhah memang tidak mendapatkan cukup makanan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Seperti hari biasanya, sudah sangat sering hal itu terjadi. Ketika senja tiba Rosulullah kedatangan seorang tamu. Rosulullah menanyakan kepada istrinya Aisyah, ”Apakah kita mempunyai sedikit makanan untuk menjamu tamu kita”? Aisyah menjawab : ”Kita tidak punya apa-apa wahai Rasulullah”. Lalu Rosulullah menanyakan kepada istri-istrinya yang lain. Namun jawaban mereka seperti halnya juga jawaban Aisyah ra. Lalu Rosulullah bertanya kepada para sahabatnya: ”Siapakah yang bersedia menjamu tamuku pada malam hari ini?”

Tanpa menunggu-nunggu ada di antara para sahabat yang mengangkat tangan mengatakan kesediaan mereka. Seorang sahabat mengatakan: ”Saya Wahai Rosulullah”. Ia Abu tholhah ra. Lalu setelah sholat isya Abu Tholhah pulang bersama tamunya. Ketika tiba di rumahnya Abu Tholhah meminta istrinya untuk menyiapkan makan malam. Dengan sedih istrinya menjawab : ”Kita tidak punya apa-apa wahai suamiku kecuali sedikit makanan untuk anak kita”. Setelah Abu tholhah berpikir sejenak ia berkata kepada istrinya: ”Tidurkan anak kita, lalu siapkan makan malam buat tamu kita, ketika akan makan, lalu padamkanlah lampu”. Ketika tamu Abu Tholhah akan makan, lampu dipadamkan lalu Abu Tholhah mengecap-ngecapkan mulutnya seakan ikut makan bersama tamunya. Setelah makan lalu Abu Tholhah mengantarkan tamunya untuk beristirahat.

Begitu shubuh tiba mereka sholat shubuh berjamaah di masjid Nabawi, ketika melihat Abu tholhah Rosulullah tersenyum lalu berkata: ”Wahai Abu Tholhah Sesungguhnya Allah amat kagum melihat apa yang telah engkau perbuat tadi malam”.

Sebuah perbandingan dan wujud keimanan seorang kepada Allah dan keimanannya kepada hari akherat adalah tatkala ia mampu memberikan pelayanan yang terbaik dan menghormati tamunya. Itulah sebuah timbangan yang Rosulullah sampaikan, di dalam Shohih Bukhori dan Shohih Muslim. Dari Abu Hurairoh ra Rosulullah bersabda: ”

“Barang siapa yang meringankan satu penderitaan dari seorang mukmin di dunia Allah akan meringankan beban penderitaannya di akherat. Siapa yang memudahkan kesusahan orang di dunia, Allah akan mudahkan kususahannya di dunia dan akherat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, jika ia menolong saudaranya. (HR. Muslim)

Itulah keindahan islam, keindahan islam akan tampak jika kaum musliminnya benar-benar melaksanakan tuntunan agamanya. Moment yang saat ini kita rasakan, yang kita pada saat bersamaan adalah pelakunya. merupakaan kesempatan emas untuk menuai janji-janji Allah tersebut. Allah telah pilihkan kampung halaman kita menjadi tempat berkumpul tamu-tamu mulia kita, keberakahan mengalir kita rasakan bersama kehadiran saudara-saudara kita tercinta. Masjid kita menjadi semakin semarak, keakraban terjalin, rasa saling menghargai dan memuliakan menghiasi rutinitas hari-hari kita.

Allah swt berfirman:

”Tolong menolonglah dalam dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlah tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”

Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, melimpakan keberkahan kepada kita semua. Mempertautkan hati-hati kita sehingga menjadi hamba-hamba-Nya yang bersaudara. Setelah itu kita cuma berharap kepada Allah agar menguatkan ikatan hati ini untuk saling bekerjasama dalam kebaikan dan ketaatan. Mengumpulkan jiwa-jiwa kita menjadi jiwa-jiwa yang lembut penuh kecintaan dan kasih sayang. Sehingga mendapatkan surga yang Allah janjikan di akherat untuk mereka yang saling mencintai karena Allah, tidak ada keindahan yang lebih kita inginkan dari kebersamaan dan berkumpul di surga Allah di akherat kelak. Amiin ya rabbal ’alamin..

Oleh: H. Zulhamdi M. Saad, Lc

Baca selengkapnya...

Kedok Para Figur Publik

>> Minggu, 19 September 2010

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia bagi umat muslim di seluruh dunia. Pada bulan Ramadhan umat muslim berlomba-lomba beramal sholih demi mendapatkan keridhoan dari Yang Maha Kuasa.

Tapi terkadang, kegiatan beribadah seperti ini hanya berlangsung selama bulan Ramadhan saja (ibarat sebuah ritual belaka). Maksudnya orang tersebut hanya mengingat Allah hanya ketika bulan itu saja, selain bulan Ramadhan dia tidak peduli lagi dengan ibadah. Selain itu, ada juga yang beribadah hanya untuk mendapatkan kepopuleran saja atau ingin mendapatkan perhatian dari publik.

Contoh yang sering kita lihat yaitu para selebritis yang ada di negara kita ini. Sebelum bulan Ramadhan mereka lebih suka memakai pakaian yang serba mini, aurat terlihat dimana-mana. Sebagian dari mereka ingin mengikuti mode/busana yang sedang nge-trend saat ini dan tidak ingin dianggap sebagai orang yang kuper (kurang pergaulan) oleh publik. Hal ini tentu sudah sangat jelas sekali kalau mereka itu lebih mementingkan sesuatu yang bahkan diharamkan oleh agama karena memperlihatkan aurat.

Ketika bulan Ramadhan tiba sebagian besar dari para selebritis itu berbondong-bondong merubah penampilan mereka. Dari yang tadinya serba terbuka berubah menjadi lebih tertutup sedikit, ada pula yang sampai memakai jilbab. Alasannya ingin mendekatkan diri kepada Allah. Dari alasan yang mereka berikan dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya selama ini mereka mengetahui kalau mereka itu jauh dari Allah. Kenapa mereka tidak berubah sejak dari dulu?

Dan ketika bulan Ramadhan usai, tidak sedikit dari selebriti-selebriti itu kembali ke jalannya semula, kehidupan yang sekuler dan bahkan sama sekali tidak memperhatikan agama. Seolah-olah mereka menganggap dosa-dosa yang mereka lakukan sebelum Ramadhan telah bersih dengan ibadah yang mereka lakukan di bulan Ramadhan. Dan sekarang mereka membuat dosa-dosa baru untuk dibersihkan di bulan Ramadhan yang akan datang. Apakah hal seperti itu fair dan dibenarkan? Tentu saja tidak.

Bulan Ramadhan lamanya hanya 1 bulan sedangkan sisanya bulan biasa yang jumlahnya mencapai 11 bulan. Itu berarti perbandingan pahala dan dosanya pun besar yaitu 1:11. Bahkan perbandingannya bisa sangat lebih besar dari itu karena semua ibadah yang dilakukan belum tentu diterima oleh Allah. Dan ini hanyalah perhitungan matematis manusia semata, untuk hitungan yang sesungguhnya Wallahu'alam bishawab.

Contoh lainnya (mungkin tidak ada hubungannya dengan bulan Ramadhan) adalah para pejabat, mulai dari atasan sampai bawahan. Ketika akan diadakan pemilihan anggota DPR, coba perhatikan ketika calon anggota tersebut sedang berkampanye! Apa yang mereka lakukan? Bagi-bagi uang dan sembako, lebih memperhatikan rakyat yang golongan menengah kebawah, dan lain sebagainya. Di poster, pamflet, baliho, dan media cetak lainnya terpampang foto calon pejabat tersebut memakai busana muslim. Intinya mereka mengumbar kebaikan dan menunjukkan akhlak baik mereka untuk mendapatkan simpati dari masyarakat. Janji-janji pun keluar dengan derasnya dari mulut mereka.

Apa yang terjadi setelah calon tersebut terpilih menjadi anggota DPR? Tidak jarang mereka melakukan KKN. Ibarat gali lobang tutup lobang, mereka berusaha untuk mengembalikan uang mereka yang dikeluarkan ketika berkampanye dengan cara mengambil uang rakyat. Janji-janji yang keluar dari mulut mereka tidak jarang pula banyak yang dilupakan begitu saja, tidak ada realisasi sama sekali.

Contoh-contoh diatas hanyalah perumpamaan saja, tidak semua selebriti dan pejabat bersifat seperti itu. Dan tentunya tidak hanya para selebriti ataupun pejabat saja yang bisa melakukan kesalahan seperti contoh yang ada diatas. Orang-orang yang ada di sekitar kita, bahkan bisa saja kita sendiri pun bisa melakukan kesalahan itu. Akan tetapi hal seperti ini dapat kita hindari yaitu dengan selalu mengingat Allah dalam kondisi apapun. Dan jangan pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu.

"Inna shalaata tanha 'anil fahsa iwal munkar"
Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar

Baca selengkapnya...

Selamat Idul Fitri 1431 H

>> Selasa, 14 September 2010

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Waah... ga kerasa bulan Ramadhan udah lewat dan udah lebaran lagi. Teman-teman semua, saya beserta keluarga ngucapin "MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN". Maafin semua kesalahan yang pernah dilakuin ya, baik yang disengaja maupun yang ga disengaja. Buat teman-teman yang selama ini hanya menjadi teman dunia maya juga, meskipun kita jarang atau bahkan ga pernah ketemu, belum tentu ga ada salah diantara kita. Kesalahan bisa aja terjadi lewat kata-kata yang dikirim melalui pesan, komentar, SMS, atau melalui media dunia maya lainnya. Atau kesalahan itu bisa juga terjadi karena adanya prasangka yang ga baik (suudzon) ke teman-teman semua. Jadi, mohon maaf yang sebesar-besarnya ya....

Ngomong-ngomong soal lebaran, teman-teman setuju ga kalo ternyata lebaran itu berbeda dengan Idul Fitri? Begini lho teman-teman, Idul Fitri itu kan artinya "KEMBALI SUCI". Hal ini berarti Idul Fitri hanya bagi orang-orang yang selama bulan Ramadhan bisa memanfaatkan waktu yang hanya sebulan itu untuk mensucikan dirinya dari kesalahan-kesalahan (dosa) yang pernah dilakukan. Sehingga orang tersebut "KEMBALI SUCI" setelah bulan Ramadhan berakhir, seperti bayi yang baru lahir. Sedangkan lebaran, siapapun bisa merasakannya, termasuk orang yang ga suka beribadah sekalipun. Betul tidak? (ngikutin gayanya Aa Gym ^^)

Ya terserah teman-teman mau setuju atau ga, yang pasti secara definisi memang seperti itulah adanya. Apapun pendapat dari teman-teman semua, yang penting semoga kita semua termasuk orang-orang yang "KEMBALI FITRI" dan merasakan indahnya Idul Fitri. Dan semoga kita semua bisa ketemu lagi ama Ramadhan yang akan datang. Amiin yaa Rabbal 'aalamiin....

Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.

:: SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1431 H ::

Baca selengkapnya...

Rencana Pembakaran Al-Qur'an

>> Minggu, 05 September 2010

Rencana pembakaran kitab suci Al-Qur'an yang akan dilakukan oleh kelompok "Dove World Outreach Center", di Amerika Serikat. Rencana keji itu dilakukan untuk memperingati tragedi pemboman World Trade Centre 11 September 2001. Mereka menganggap umat Islam sebagai pelaku pemboman gedung WTC, sehingga mereka berencana membalas dendam dengan cara membakar Al-Qur'an.

Rencana kelompok "Dove World Outreach Center" ini mendapat reaksi yang sangat keras dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pada hari hari Sabtu (04/09/2010) HTI mengecam rencama tersebut dengan mengadakan aksi di depan Gedung Kedubes AS, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta. Para aktivis dan pendukung HTI ini tampak membawa beraneka macam poster yang isinya mengutuk rencana pembakaran Al-Qur`an. Salah satu poster berisikan pesan "Jihad to protect Qur`an (jihad untuk melindungi Al Qur`an). Aksi menentang rencana pembakaran Al-Qur'an ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di Banjarmasin, Palembang, Surabaya, Sumenep, Bandung, Madura, Jawa Timur, dan di daerah lain.

Al-Qur'an adalah kitab suci kita sebagai umat Islam. Membakar Al-Qur'an adalah sikap yang sangat merendahkan kehormatan, keagungan dan kesucian Al Qur`an. Apakah kita akan diam saja ketika Al-Qur'an dilecehkan? Jika kita diam berarti kita setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh kelompok "Dove World Outreach Center" dan akan dianggap sebagai orang yang telah murtad dari agama Islam (naudzubillahimindzalik...)

So, apa yang harus kita lakukan? Kita harus (wajib) untuk menentang tindakan tersebut jangan sampai terjadi. Caranya? Karena kita terpisah oleh sekat-sekat pemisah yaitu negara, kita tidak mungkin bisa berjihad pergi ke Amerika untuk memberantas kelompok "Dove World Outreach Center", maka kita hanya bisa menyuarakan dan meminta negara untuk bisa bersikap tegas terhadap kelompok "Dove World Outreach Center".

ALLAHU AKBAR !!!

Baca selengkapnya...
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Mengenai Saya

Foto saya
Serang, Banten, Indonesia
Hidup itu tidak sulit, tapi jangan dipersulit dengan hal-hal yang sebenarnya tidak begitu menyulitkan...

  © BangDeni

Back to TOP